Sabtu, 09 Januari 2010

7 Cara Pacaran Islami ala Khadijah-Muhammad

Seperti telah kita ketahui bersama, makna asli “pacaran” adalah
“persiapan nikah”. (Lihat “Definisi & Bentuk Nyata Pacaran
Islami“.) Dengan definisi tersebut, di bawah ini hendak aku paparkan
pengamatanku mengenai bagaimana berlangsungnya proses yang menjadikan
Khadijah-Muhammad siap menikah:

1. TA’ARUF PASIF: Khadijah mulai “naksir” Muhammad lantaran mendengar kabar mengenai kemuliaan akhlak beliau.
itu, masyarakat Makkah sedang ramai membicarakan Muhammad bin Abdullah,
seorang pemuda yang bisa menjaga kejujuran dan keluhuran hati,
sementara para pemuda pada umumnya suka berfoya-foya. Khadijah naksir
itu bukan lantaran ketampanan atau pun kekayaannya. Malah, saat itu
Muhammad saw. merupakan pemuda yang miskin.

2. TA’ARUF AKTIF: Khadijah menyaksikan sendiri kemuliaan akhlak Muhammad melalui perbincangan dalam tatap muka langsung.
Pada mulanya, ketertarikan Khadijah kepada Muhammad bukanlah dalam rangka kepentingan asmara, melainkan bisnis. Kita tahu, Khadijah ialah seorang pengusaha kaya. Lantas, Khadijah pun memanggil Muhammad dan mengajaknya berbincang-bincang mengenai perdagangan. Dengan perbincangan seperti
ini, Khadijah bisa mulai mengecek apakah benar bahwa Muhammad berakhlaq mulia.

3. TANAZHUR (TA’ARUF INTERAKTIF): Khadijah dan Muhammad menjalin kerja sama pengembangan karir. Melalui
perbincangan tersebut tadi, Khadijah menganggap bahwa Muhammad adalah
sosok yang ia butuhkan untuk berdagang ke negeri Syam. Muhammad pun
menerima tugas itu dengan senang hati. Dengan interaksi seperti ini,
Khadijah dapat me-recheck atau melakukan pengujian terhadap Muhammad
sebelum benar-benar yakin bahwa Muhammad memang berakhlak mulia.


4. TANAZHUR LANGSUNG: Khadijah mengalami sendiri indahnya menjalin kebersamaan dengan Muhammad yang berakhlak mulia.

Sepulangnya
Muhammad saw. dari negeri Syam, Khadijah menerima laporan langsung dari
beliau mengenai penunaian tugas berdagang tersebut tadi. Khadijah
sangat gembira dan terlihat antusias sekali menyimak laporan tersebut.
Secara demikian, tumbuhlah rasa cintanya kepada beliau. Dari hari ke
hari, cintanya semakin mendalam.

5. TANAZHUR BERJARING: Khadijah memanfaatkan jaringan (network)-nya untuk memperlancar interaksinya dengan Muhammad.

Maisarah
ialah orang kepercayaan Khadijah yang menyertai Muhammad berdagang ke
Syam. Ia pun menceritakan pengalaman-pengalaman yang ditemuinya selama
perjalanan. Laporan-laporannya mengenai kemuliaan Muhammad menjadikan
Khadijah semakin berhasrat untuk menjadi istri beliau.

6. TANAZHUR BERMEDIA: Khadijah mengerahkan “agen cinta” untuk memperlancar hubungannya dengan Muhammad.

Dalam
tradisi Arab ketika itu, bila seorang perempuan kaya mendatangi seorang
pemuda untuk meminta menikahinya, maka itu dipandang memalukan. Untuk
menyiasatinya, Khadijah pun mengutus Nafisah, seorang kepercayaannya
lainnya, untuk membujuk Muhammad supaya mau melamar dirinya.

7. KHITBAH: Muhammad melamar Khadijah untuk menjadi istri beliau.

Di
depan keluarga Khadijah, Muhammad saw. melamarnya. Maharnya 20 ekor
unta. Lamaran pun diterima. Pernikahan itu sendiri dilaksanakan pada
waktu 2 bulan 15 hari setelah Muhammad datang dari Syam. Usia Muhammad
saat itu 25 tahun, sedangkan Khadijah 40 tahun.

Wallaahu a’lam.

0 komentar: